Sep 07 2007
Hatta, si- “anak titipan”
Sebagai Menteri Perhubungan, di saat-saat menjelang Lebaran dan sesudahnya Hatta Radjasa sangat sibuk untuk mempersiapkan pelayanan transportasi arus mudik dan arus balik. Karena itulah ia harus bekerja keras dan disiplin–suatu hal yang sudah ia terapkan sejak masa kanak-kanak.
Dibesarkan dalam keluarga pegawai negeri, lelaki kelahiran Palembang, 18 Desember 1953, ini sudah terbiasa hidup sederhana dan disiplin. Ketika lulus dari sekolah dasar, bersamaan dengan jabatan baru sang ayah sebagai asisten wedana di daerah Muarakuang, Hatta kecil dititipkan di rumah pamannya di Palembang. Di rumah sang paman itulah ia belajar hidup bersama orang lain, belajar mengendalikan diri, dan saling menolong dalam berbagai hal. Sadar sebagai “orang titipan”, ia tidak bisa seenaknya seperti di rumahnya sendiri. Ia pun membantu pekerjaan-pekerjaan rumah seperti mengisi bak air di pagi hari sebelum berangkat sekolah. Itu dilakukan sampai SMA.
Lulus SMA, Hatta melanjutkan studi di Jurusan Teknik Perminyakan, Institut Teknologi Bandung (ITB). Tentu ia tak hanya kuliah. Hatta juga belajar berorganisasi dengan mengikuti berbagai kegiatan di kampus, dari wakil ketua himpunan jurusan, senat mahasiswa, sampai aktivis Masjid Salman. Bagaimanapun aktivitas kemahasiswaan itu kian mematangkan aspek rasional, emosional, dan religiusitasnya. Sebagai aktivis mahasiswa, kadang pemikirannya berseberangan dengan pemerintah pada saat itu. Mungkin lantaran hal ini cita-citanya sebagai dosen kandas.
Bukan masalah kalaupun cita-cita itu gagal. Setamat ITB, ia mendapat tawaran dari beberapa perusahaan, dengan gaji besar. Namun karena semangat kemandirian, akhirnya memilih berusaha sendiri. Bersama teman-temannya ia pun mendirikan usaha di bidang perminyakan. Kerja keras, kemandirian, kejujuran, dan kemampuan bekerja sama dengan orang lainlah yang akhirnya membawanya menjadi seorang pengusaha yang sukses. Sejak tahun 1982 sampai 2000 ia menjabat Presiden Direktur Arthindo.
